Garis Logo
images

Kepahlawanan Himayatuddin Peroleh Pengakuan Akademik

UPAYA Pemkot Baubau dan Pemprov Sultra guna mengusulkan La Karambau Sultan Hiyatuddin Muhmmad Saidi atau dikenal dengan nama Oputa Yikoo, Sultan Buton ke-22 dan 24 mulai menunjukkan titik cerahnya setelah memperoleh pengakuan akademik dalam seminar yang digelar di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo Kendari, Senin 22 Jui 2019.

Dirilis Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, Drs. Sadarman, M.Si menyebutkan seminar nasional ini menghadirkan pemateri kompeten berkait usulan Pahlawan Nasional untuk Oputa Yikoo, yakni Prof. Dr. Jimly Assiddiq - wakil ketua dewan gelar dan pemberian tanda sa dan kehormatan RI, Gubernur Sultra H. Ali Mazi, Sh., Wali Kota Baubau - Dr. H.AS. Tamrin, Mh Rektor UHO Prof. Dr. Zamrun, sejarawan nasional dari UI- Prof. Dr. Susanto Zuhdi, dengan dipandu moderator, Asrun Lio, Ph.D .

Atas kegiatan seminar nasional ini dipandang sebagai pengakuan akademik untuk kemudian seterusnya di proses sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Gubernur Ali Mazi menyatakan komitmen dan dukungan penuhnya atas pengusulan Oputa Yikoo sebagai pahlawan nasional dari Sulawesi Tenggara. Sementara wali kota Baubau, AS Tamrin memaparkan nilai-nilai Sarapataanguna dalam diri Oputa Yikoo sebagai modal dasar mempertahankan negerinya dari kekuasaan penjajahan. Prof. Susanto Zuhdi memaparkan sejarah kepahlawanan Oputa Yikoo, demikian halyny Rektor UHO yang memberikan dukungan penuh secara akademik untuk pengusulan Pahlawan Nasional dari Sultra.

Pemaparan Prof Jimly menjadi yang ditunggu tunggu peserta seminar sebab ia adalah prjabat berwenang berkait usulan tersebut. Menurutnya lembaganya merupakan lembaga terakhir yang akan memberikan pertimbangan kepada Presiden RI berkait usulan Pahlawan Nasional.

"Sangat berpeluang, sebab belum ada usulan pahlawan nasional dari Sulawesi Tenggara. Memang ada nama Jenderal Yassin kelahiran Baubau tetapi pahlawan nasionalnya diusulkan Jawa Timur. Sekarang ini Sulawesi Tenggara belaum ada," tegas mantan ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Tentang Oputa Yikoo, Jimly juga sangat optimis - karenamya meminta pihak pengusul untuk mengikuti aturan dan mekanisme perundang-undangan yang ada. Kehadirannya ke Sultra juga untuk mengetahui kondisi objektif nama tokoh ini.

Seminar ini dihadiri sejumkah elite Sulawesi Tenggara, akademisi, stakeholder dan mahasiswa di daerah ini. Banyak hal mengemuka terungkap di seminar ini,utamanya berkait mekanisme pemberian gelar, tamda sa dan kehormatan, yang selama ini didominasi TNI/Polri. "Sipil, swasta dan masyarakat umum masih kurang mengusulkan, padahal semuanya berpeluang asal sesuai aturan dan mekanisme yang berlaku," imbuh Prof. Jimly.

Gubernur yang menutup acara ini menyatakan komitmen penuhnya baik secara kelembagaan maupun pribadi, dan meminta warga Sultra mendoakan agar secepatnya Sultra mendapat Pahalwan Nasional, sebagai bentuk kebanggaan dan nasionalisme yang lahir dari daerah.