Garis Logo
images

Pj. GUBERNUR APRESIASI NAMA BESAR BAUBAU DAN BUTON

Kunjungan perdana Penjabat Gubernur Sultra, Drs. H. Teguh Setyabudi, M.Pd di Kota Baubau sebagai tour perkenalannya sejak dilantik pertama kali oleh Mendagri Tjahjo Kumolo pada 18 Fbruari 2018, memberi semangat tersendiri bagi masyarakat di kota ini dan khususnya Kepulauan Buton.

Paling tidak ia memahami benar kondisi kesejarahan daerah ini, dengan mengungkap nama besar Kesultanan Buton dan Kota Baubau yang dinilainya sudah memiliki nama besar sejak lama. “Kota ini saya kenal dengan baik sebagai pusat peradaban Buton, dikenal dengan benteng Keratonnya dan sejumlah benteng-benteng bersejarah lainnya di Pulau Buton. Saya memahami dinamika masyarakat di sini sejak lama,” Ujar Teguh dihadapan elite Baubau dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya dalam acara rapat koordinasi yang dipusatkan di Balairung Palagimata Kantor Wali Kota Baubau, 1 Maret 2018.

Dilaporkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi,S.Kom, M.Si, bahwa berkaitan dengan Kota Baubau yang telah berumur 17 tahun sebagai kota otonom dijelaskan oleh guberbur sebagai daerah yang syarat pengalaman dalam berdemokrasi.

“Soal pikada wali kota dan gubernur, saya meyakini bahwa Kota Baubau sudah cukup pengalaman termasuk masyarakatnya, sehingga dinamika politik akan berjalan dalam suasana yang kondusif, aman, saling menghormati, karena masyarakatnya memiliki prinsip saling menghormati, saling menyayangi, sebagaimana diwariskan leuhur negeri Buton,” pungkas Teguh disambut tepuk riuh hadirin.

Ia juga memahami dinamika masyarakat Baubau dan Buton pada umumnya akan keinginan membentuk satu provinsi baru dengan nama Provinsi Kepulauan Buton. “Memang sementara masih ada moratorium, tetapi jika saya dibutuhkan dan peluang itu terbuka, saya akan membantu sepenuh hati hati untuk mendorong percepatan pemekaran provinsi ini, karena memang sangat layak ditinjau dari berbagai segi,” tandasnya sembari mengingatkan jika Baubau bisa setara dengan kota-kota lainnya di Indonesia.

“Kalo di Makassar tidak ada Baubau, tetapi di Baubau ada Pulau Makassar, di sini jga ada Kampung Korea, itu luar biasa namanya,” imbuh gubernur.

Hal lain yang diungkap Gubernur adalah meyaknkan masyarakat Sulawesi Tenggara bahwa dirinya akan bekerja secara profesional, tidak memiliki kepentingan politis, sebab ia orang pusat. Namun begitu ia juga mendorong berbagai percepatan pembangunan selama ia menjabat termasuk dukungannya mewujudkan perencanaan pembangunan yang saat ini dikemas Penjabat Wali Kota Baubau, Dr. Ir. H. Hado Hasina, MT.

Sebelumnya, Wali Kota Baubau, Hado Hasina melaporkan kehadapan Gubernur Teguh jika dirinya sebagai penjabat di kota ini, tetap memiliki visi kepemimpinan yang disebutnya sebagai ‘RPJMD Transisi”, yakni mewujudkan Baubau sebagai Kota Perdagangan dan Jasa berbasis Partisipasi Masyarakat yang Berkebudayaan.

“Oleeh karena itu saya tetap memperioritaskan kehadiran landmark dan sejumlah akses point, yang mencirikan dinamika perkotaan, dengan tidak melupakan tugas pokok sebagai penjabat wali kota.

Ia juga memaparkan 5 prinsip sukses dalam kepemimpinan Hado Hasina yang dikemas dalam literasi berbahasa daerah Buton, yakni; pokana pongipi – simbiti – Kaleru Ndapokia Somanamo – Amalape Haejati – Tapekadei Mingkuta – dan, Sodam paragigi. “Kita harus pandai bermimpi, agar Kota Baubau bisa dinikmati semua orang, dan memudahkan orang mencari kehidupan di kota ini,” harap Hado Hasina.

Pada kesempatan ini Hado juga menjelaskan potensi sumber daya aparatur Kota Baubau, yang saat ini terdiri dari 33 orang pejabat eselon II, 153 orang pejabat eselon III, 523 orang pejabat eselon IV dan didukung 4251 orang Aparatur Sipil Negara.

Usai rapat Kordinasi, Gubernur yang didampingi Wali Kota Baubau, berserta sejumlah pimpinan SKPD Pemprop Sultra dan Pemkot Baubau, Forkopimda dan Kabulog Sultra menyerahkan bantuan beras sejahtera sejumlah 67.370 kg kepada 6.737 keluarga yang tersebar dalam 8 wilayah kecamatan di kota ini.