SELAMAT DATANG DI PEMERINTAH KOTA BAUBAU
POTENSI INVESTASI
Potensi Kota Baubau

Perikanan

Meskinpun secara kewilayahan, Kota Baubau hanya memiliki wilayah lautan seluas 200 mil, namun potensi perikanan yang berasal dari daerah sekitarnya (khusunya Kabupaten Buton) terakumulasi di kota ini. Berbagai produksi perikanannya adalah ikan pelagis besar (tuna, cakalang), pelagis kecil (julung – julung,laying, kembung), demersal (sunu, kerapu, kakap, boronang, ekor kuning, lobter, pari, dan lain – lain), serta hasil lainnya seperti cumi – cumi pulpen, teripang, kerang – kerang(biota laut), benur, Eucheuma, Spinosum, dan sebagainya. Potensi tersebut didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai seperti pabrik karagenan rumput laut, pelabuhan laut, serta aksesibilitas dan pelabuhan udara. Disamping itu, telah terbangunnya dan termanfaatkannya tempat pelelangan ikan (TPI), cold storage dan stasiun pengisian Bahan BakarBagi Nelayan (SPBN) dalam satu kawasan, serta didukung oleh pembangunan kampung nelayan melalui  Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa), menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat pengembangan perikanan terpadu. Dalam rangka penguatan SDM di Bidang perikanan dan kelautan, pemerintah kota juga telah membangun sebuah sekolah kejuruhan yang memiliki konsentrasi di bidang kalutan, yaitu SMK Nautika dan kelautan di pulau makassar.

Potensi Budidaya Rumput Laut

Dengan garis pantai sepanjang ± 42 Km, Kota Baubau berpotensi menjadi penghasil rumput laut. Disamping itu, wilayah sekitarnya yaitu perairan Kabupaten Muna, Buton, Buton Utara, dan Bombana juga memiliki potensi sangat besar sebagai produsen berbagai jenis rumput laut. Bahkan, berdasarkan potensi yang dimiliki, sejak tahun 2005 Provinsi Sulawesi Tenggara telah ditetapkan sebagai Pusat P+engembangan Regional Sulawesi (BKPRS), dimana Kota Baubau sebagai outlet utama pengembangan komoditi dimaksud.

Wilayah pengembangan budidaya rumput laut di Kota Baubau tersebar pada berbagai kelurahan yang terletak di daerah pesisir, yaitu Kelurahan Palabusa, Kalia – lia, Kolese dan Lowu – Lowu (Kecamatan Bungi), Kelurahan Lakologou, Waruruma, Sukanaeyo, dan Liwuto (Kecamatan Kokalukuna), Kelurahan Lakologou, Waruruma, Sukanaeyo, dan Liwuto (Kecamatan Kokalukuna), Kelurahan Naganganaumala, Wameo, Tarafu, dan Bone - Bone  (Kecamatan Murhun),serta Kelurahan Katobengke, Lipu, dan Sulaa (Kecamatan Betoambari). Luas areal perairan yang dapat di manfaatkan bagi pengembangan budidaya rumput laut berkisar 960 Ha di sempajang garis pantai potensial, yaitu sekitar 9 km untuk Kecamatan Murhum dan Betoambari. Namun demikian, hingga tahun 2007 lahan perairan yang termanfaatkan baru sekitar 111,6 Ha.

Jenis rumput laut yang dikembangkan terbatas pada Eucheuma Cottoni dan Eucheuma Spinosum. Pelaksanaan budidaya masih dilakukan secara tradisional, yaitu penyebaran bibit pada bentangan tali pada permukaan air dengan menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu, dengan masa pemeliharaan hingga panen bekisar 40 – 45 hari. Perkembangan produksi rumput laut dalam tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Sementara itu komoditi rumput laut memberikan sumbangan terbesar dibandingkan 66 komoditi subsektor perikanan.

Potensi Budidaya Mutiara

Ada dua jenis mutiara yang kini dibudidayakan dan berkembang di Kota Baubau, yaitu Pinctada Maxima yang  menghasilkan mutiara bundar (roud pearl) dan jenis Pteria pengu yang menghasilkan mutiara blister (haft pead)

Pertanian, Perkebunan, dan Perternakan

Sesuai dengan peruntukan, Kota Baubau pada tahu 2008 memiliki lahan sawah seluas 1.157 Ha, pekarangan (1.665 Ha), tegal/ kebun (3.714 Ha), ladang/huma (1.303 Ha), padang rumput (463 Ha), Hutan negara (9..575 Ha), perkebunann  (1.95760 Ha), rawa (37 Ha), tambak (71 Ha), kolam/tebet/empang (71 Ha), dan lahan lainnya 9805 Ha).Terdapat dua wilayah kecamatan yang masih mengadalkan potensi di bidang perkebunan, yaitu Kecamatan Bungi dan Sorawolio. Pada tahun 2008 sebayak 241,41 ton, Pala (0,31 ton), Jambu Mente (83,4 ton), Coklat (99,7 ton), Enau (2 ton), Asam Jawa (18 ton) dan Pinang (10 ton). Sementara jumlah populasi ternak besar dan kecil pada tahun 2008 meliputi sapi (1.948 ekor), kambing (1.522 ekor), dan babi (1.690 ekor). Sedangkan untuk ternak unggas, terdiri dari ayam kampung (129,517 ekor), ayam ras (153,600 ekor), dan itik/bebek 5,711 ekor).

Perdagangan

Kegiatan perdagangan yang berlangsung di Kota Baubau mencakup perdagangan berskala lokal dan regional. Komoditas yang diperdagangkan sebagai besar dari subsektor perikanan dan perkebunan dengan tujuan utama pemasaran yaitu Kendari, Makassar, Surabaya dan Jakarta, serta sebagai kecil dipasarkan ke Papua, Maluku, Nusatenggara, dan Kalimatan. Valume perdagangan antara pulau hasil perikanan pada tahun 2008 mencapai 5.978.248 ton, dengan komoditas terbesar hádala Ikan Tongkol – agar yakni mencapai 811,220 ton senilai Rp. 2.613.750.840. komoditi lainnya sebayak 74 komoditi antara lain berupa ikan segar dan olahan dari jenis tuna, cakalang dan cumi – cumi. Sedangkan volume perdagangan hasil perkebunan pada tahun yang sama mencapai 6.071.560 ton. Nilai perdagangan hasil perkebunan terbesar pada tahun 2008.

Secara umum perdagangan di wilayah Kota Baubau sejak tahun 2002 sudah mencakup seluruh jenis dan tingkatan dengan pola sebaran yang hampir mencakup seluruh jenis dan tingkatan dengan pola sebaran yang hampir mencakup seluruh wilayah desa/kelurahan. Jenis fasilitas perdagangan skala pelayanan lingkungan yaitu warung/kios sudah mencakup seluruh wilayah desa/kelurahan. Untuk fasilitas perdagangan skala kota dan regional hanya terdapat di pusat kota (Kecamatan Wolio dan Betoambari), yaitu sebanyak 4 unit pasar umum modern, 3 unit pusat pembelajaran (swalayan) dan 1 buah plaza (mall). Fasilitas perdagangan lainnya yang menujang kegiatan perdagangan maupun perekonomian yaitu rumah makan yang seluruhnya berjumlah 84 unit.

Volume bongkar muat barang yang ada di pelabuhan Murhum Baubau dengan skala regional sampai tahun 2006 mengalami peningkatan cukup signifikan . Volume  bongkar pada tahun 2004 adalah 175.740.788 ton, meningkat menjadi 189.302.391 ton pada tahun 2006, dan tahun 2006 kembali meningkat menjadi 217.196.308 ton. Kegiatan muatan barang juga mengalami peningkatan cuklup signifikan , dari 33.119.854 ton pada tahun 2004, menjadi 79.638.571 ton pada tahun 2005, dan meningkat menjadi 84.479.908 pada tahun 2006.

Perindustriaan

Meskipun peranannya masih belum begitu dominan dalam perekonomian daerah, namun melihat potensi posisi Kota Baubau yang strategis, kegiatan industri memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Jenis industri yang dominan yaitu industri pengolahan makanan dan minuman, pengolahan hasil perikanan (pembekuan ikan dan pengalengan), industri pengolahan hasil perkebunan dan kehutanan (penggergajian, meubel, dan gembol).

Pariwisata

Kota Baubau memiliki potensi wisata dan daya tarik wisata budaya dan wisata alam yang cukup representatif untuk dikembangkan. Selain sebagai pusat pemerintahan, Kota Baubau juga sekaligus sebagai pusat Budaya Kesultanan Buton sehingga menjadikan Kota Baubau memiliki obyek wisata dari peninggalan sejarah dan kebudayaan yang sangat menarik bagi wisatawan lokal maupun macananegara.

Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kota Baubau, kawasan pariwisata dikelompokan menjadi 6 bagian yaitu :

  1. Kota Lama, sebagai pusat pelayanan wisata untuk Kota Bau – Bau dan sekitarnya serta wisata budaya berbasis pada bangunan tradisional dan pantai sebagai penunjang, dengan obyek wisata meliputi Pantai Kamali, Malige, Batu Puaro, dan Kota Lama.
  2. Benteng, sebagai kawasan wisata budaya, dengan obyek wisata meliputi Benteng Wolio dan Benteng Sorawolio.
  3. Pantai sebagai kawasan wisata budaya alam berbasis pantai, dengan obyek wisata meliputi Pantai Nirwana, Pantai Lakeba, Gua Lakasa, dan Gua Moko.
  4. Bungi sebagai kawasan wisata alam berbasis air terjun dan ekologi hutan dan pantai dengan obyek wisata meliputi Air Terjun Bungi, Pantai Kokalukuna, Air Terjun Tirta Rimba, dan Hutan Wakonti.
  5. Samparona sebagai kawasan wisata alam berbasis air terjun dan ekologi hutan dengan obyek wisata meliputi Air Terjun Samparona dan Air  Terjun Kantongara.
  6. Pulau Makassar sebagai kawasan wisata budaya berbasis pemukiman dan tata cara hidup nelayan serta pantai sebagai penunjang, dengan obyek wisata meliputi pulau makassar.

Sedangkan jumlah hotel yang ada di Kota Baubau pada tahun 2008 sebayak 32 buah, jumlah kamar 393 ruangan dan tempat tidur 618 buah. Sedangkan banyaknya kamar dan tempat tidur pada hotel bintang dan non bintang pada tahun 2008 yakni hotel bintang kamarnya 361 dan tempat tidur 562 buah.

LINKS
KECAMATAN
WEBSITE DINAS & INSTANSI
BERITA
kominfo | 2017-07-28 08:14:00
bappeda | 2017-07-25 00:00:00
kominfo | 2017-05-25 12:00:00
dinkes | 2017-05-18 00:00:00
Copyright 2009 - 2017 Pemerintah Kota Baubau
Alamat Kantor Pemkot : Jl Raya Palagimata kel. Lipu, Baubau, Sulawesi Tenggara
helpdesk@baubaukota.go.id
+6240421011
Top